Menulis Paragraf Narasi: Contoh Paragraf Narasi Singkat

Secara sederhana, paragraf dapat diartikan sebagai rangkaian kalimat yang disusun untuk menjelaskan sebuah ide pokok. Ada banyak cara merangkai kalimat-kalimat agar menjadi paragraf yang mudah dipahami.

Cara merangkai kalimat disebut dengan pola pengembangan paragraf atau sering pula disebut teknik mengembangkan paragraf. Ada beberapa pola pengembangan paragraf, antara lain pola deduktif, induktif, sebab-akibat, deskriptif, proses, contoh, pertentangan, perbandingan, dan kronologis.

Pemilihan pola pengembangan tersebut didasarkan pada tujuan dan sifat informasi yang ingin disampaikan. Jika penulis ingin menjelaskan sesuatu, pola yang lazim dipakai adalah pola deduktif
(umum-khusus), pola induktif (khusus-umum), proses, atau contoh.
Untuk tujuan menggambarkan sesuatu, teknik yang biasa dipakai
adalah pola deskriptif.

Jika ingin menyampaikan alasan, penulis biasanya menggunakan pola sebab-akibat atau akibat-sebab. Sementara itu, untuk tujuan menceritakan, pola yang paling sesuai adalah pola kronologis atau pola yang mengikuti urutan waktu. Suatu kisah, cerita, atau pengalaman pribadi pada prinsipnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang berkaitan dan berurutan. Jika satu peristiwa diungkapkan dalam satu kalimat, satu kisah atau cerita tentu memerlukan beberapa kalimat untuk mengungkapkannya. Urutan kalimat tersebut akan lebih mudah dipahami jika diurutkan secara alamiah sesuai dengan urutan waktu terjadinya peristiwa tersebut.

Perhatikan contoh paragraf naratif berikut!

Hari ini adalah hari pertama Faris bersekolah di SMAN 4 Semarang. Ia bangun pukul 4.00 WIB, satu jam lebih awal dari biasanya. Ia segera ke kamar mandi. Salat Subuh ia lakukan tepat setelah azan selesai berkumandang.

Pakaian seragam baru yang telah ia siapkan dari kemarin malam, dipakainya dengan rapi. Meskipun tidak biasa, ia mencoba sarapan pagi. Tepat pukul 6.00, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya kemudian berangkat dengan harapan dan semangat baru.

Paragraf di atas menceritakan kegiatan yang dilakukan Faris
pada hari pertama masuk sekolah di SMA. Kalimat pertama berfungsi sebagai pengantar, untuk menggambarkan konteks terjadinya kegiatan atau peristiwa yang dilakukan Faris. Enam kalimat selanjutnya merupakan gambaran enam kegiatan yang dilakukan Faris, yaitu bangun, mandi, salat, berpakaian, sarapan, dan pamit pergi.
Keenam kegiatan itu kemudian diungkapkan, masing-masing menjadi satu kalimat dan dirangkai menjadi satu paragraf yang utuh.

Sistem Instalasi Listrik, AC System dan Generator Pada Kelistrikan Kapal

AC system
Pada kapal-kapal baru, sistem distribusi DC saat ini jarang digunakan karena untuk semua sistem, sistem AC lebih mudah dan murah dibandingkan sistem DC. Dimana sistem AC lebih simple, ringan dan mudah dalam perawatan. Sistem kawat kabel tunggal dengan Hull Return sekarang ini jarang digunakan.

Berdasarkan SOLAS 1960, tindakan pencegahan harus dilakukan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kelemahan dari sistem kawat tunggal dalam kaitannya dengan keselamatan apabila dilakukan isolasi terhadap kabel tidak dapat menjadi indikator untuk kondisi underload.

Dan jika dilakukan survey terhadap kondisi sirkuit ke kebutuhan peralatan tidak dapat dilakukan pengujian Megger tanpa membuka lampu atau alat pemutus hubungan/stop kontak (Circuit breaker).

GENERATOR
Fungsi utama generator diatas kapal adalah untuk menyuplai kebutuhan daya listrik di kapal.

Daya listrik digunakan untuk menggerakkan motor-motor dari peralatan bantu pada kamar mesin dan mesin-mesin geladak, lampu penerangan, sistem komunikasi dan navigasi, pengkondisian udara (AC) dan ventilasi, perlengkapan dapur (galley), sistem sanitari, cold storage, alarm dan sistem kebakaran, dan sebagainya.

Dalam pendisainan sistem diatas kapal perlu diperhatikan kapasitas dari generator dan peralatan listrik lainnya, besarnya kebutuhan maksimum dan minimum dari peralatannya. Dimana kebutuhan maksimum merupakan kebutuhan daya rata-rata terbesar yang terjadi pada interval waktu yang singkat selama periode kerja dari peralataan tersebut, demikian juga sebaliknya.

Kebutuhan rata-rata merupakan daya rata-rata pada periode kerja yang dapat ditentukan dengan membagi energi yang dipakai dengan jumlah jam periode tersebut. Kebutuhan maksimum penting diketahui untuk menentukan kapasitas dari generator yang diperlukan.

Sedangkan kebutuhan minimum digunakan untuk menentukan konfigurasi dari electric plant yang sesuai serta untuk menentukan kapan generator dioperasikan.

Prosedur K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Galangan Kapal

Prosedur k3 pada galangan kapal merupakan aspek yang sangat penting dari profil seluruh pekerjaan seorang karyawan galangan kapal. Kondisi kesehatan keselamatan para pekerja galangan kapal juga mempunyai berbagai resiko bahaya dengan berbagi potensi fatal jika prosedur keselamatan dan kesehatan tidak di perhatikan .

Untuk memastikan keselamatan pekerja pada galangan kapal sudah menjadi tanggung jawab semua orang yang bekerja di daerah tersebut dan Metode atau pedoman yang dapat diterima untuk menyelesaikan prosedur dan inspeksi keselamatan dan kesehatan kerja ini di lakukan sesuai pedoman OSHA dan standar maritim secara umum.

Beberapa prosedur yang dapat digunakan untuk membantu memastikan keselamatan dan kesehatan kerja pada galangan kapal antara lain adalah:

Medical Qualifications

Menetapkan prosedur dan inspeksi keselamatan yang dirancang untuk memastikan personel atau karyawan secara fisik sebagai persyaratan terhadap karyawan dengan berbagai perlindungan dari berbagai paparan bahaya di daerah galangan kapal. Metode pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan catatan tenaga medis. Pemeriksa harus menentukan apakah evaluasi medis periodik telah dilakukan dengan benar, Kemudian memberikan pengarahan sepenuhnya terhadap bahaya kesehatan yang berhubungan dengan tugas-tugas mereka.

Worksite Safety

Dalam galangan kapal, ada beberapa lingkungan kerja berbahaya yang dapat karyawan hadapi. Inspeksi keselamatan harus menentukan apakah karyawan dilatih mengenai bahaya spesifik yang terkait dengan pekerjaan mereka. Bahaya tersebut antara lain adalah bekerja di ketinggian, bahaya jatuh, bahaya lingkungan dan bahaya menggunakan alat. Pemeriksa harus melalui prosedur catatan pelatihan, memastikan jika pekerja memiliki masalah keamanan, dan pemeriksaan onsite lengkap dari situs kerja. Prosedur ini dipastikan harus sesuai dengan peraturan k3 yang telah diberlakukan.

Hazard Elimination

Inspeksi protokol harus memeriksa prosedur mitigasi tentang bahaya galangan. Galangan kapal harus memiliki prosedur yang jelas untuk mengidentifikasi pekerja terhadap berbagai bahaya yang ada, dan bagaimana bahaya tersebut ditanggulangi dan dikendalikan. Pengendalian bahaya tersebut melalui perencanaan formal dan prosedur mitigasi atau penghapusan kondisi berbahaya. Karyawan harus benar-benar dilatih tentang prosedur pelaporan keselamatan bahaya resmi.

Subcontractors

Prosedur ini diperlukan untuk memastikan subkontraktor yang bekerja di galangan kapal dapat memenuhi persyaratan keselamatan yang sama. Karyawan Subkontraktor harus dilatih dan memiliki pemahaman tentang bahaya yang terkait dengan tempat kerja. Meskipun tidak dipekerjakan oleh galangan kapal, subkontraktor juga mempunyai hak yang sama terhadap pemahaman bahaya keselamatan dan kesehatan pada lingkup galangan kapal seperti karyawan resmi lainnya. Prosedur ini harus memastikan subkontraktor telah memiliki catatan tertulis terhadap standar keselamatan kesehatan kerja pada galangan tersebut . Dokumentasi yang dibutuhkan meliputi pelatihan keamanankaryawan, catatan medis dan, dan penggunaan alat pelindung diri.

Prosedur Penanganan Kecelakaan / Incident Report Pada Lingkungan Kerja

Prosedur Investigasi kecelakaan / Incident Report

Prosedur ini bertujuan agar setiap kejadian kecelakaan yang terjadi dalam lingkungan Perusahaan dapat cepat dilaporkan dan korban mendapatkan penanganan dengan segera. Selain itu agar diketahui penyebab kecelakaan tersebut sehingga dapat diambil tindakan pencegahan agar tidak terulang kembali.

1.REFERENSI
Manual K3
OHSAS 18001:2007 klausul 4.5.3.1
Permenaker No.03/MEN/1998

2.DEFINISI
Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan atau direncanakan yang mengakibatkan kerugian berupa cidera atau kehilangan nyawa, kerusakan properti, gangguan pada proses dan lingkungan.

Cidera ringan adalah cidera yang mengakibatkan luka yang hanya membutuhkan perawatan P3K dan dapat kembali bekerja.
Cidera sedang adalah cidera yang mengakibatkan luka dimana korban tidak dapat masuk keesokan harinya/membutuhkan istirahat atau dirawat di rumah sakit.

Cidera berat adalah cidera yang mengakibatkan korban kehilangan salah satu anggota tubuh/cacat.

Fatality adalah yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.

3. URAIAN PROSEDUR
Pelaporan Kecelakaan dan Penanganan Cidera

Setiap kecelakaan kerja wajib dilaporkan kepada atasannya/MR atau menghubungi nomor darurat yang ada. Bila terjadi pada pekerja kontraktor maka pihak mandor wajib melaporkan pada pengawas atau menghubungi nomor darurat yang ada.

Apabila terdapat korban jiwa maka kejadian segera dilaporkan kepada MR /pihak lain yang ditunjuk. Korban segera dibawa menuju rumah sakit terdekat dengan fasilitas yang ada atau ambulance.

Apabila cidera yang terjadi sedang atau berat maka petugas K3/ MR di lokasi yang mengetahui kecelakaan itu segera melakukan tindakan pertolongan pertama bagi korban sampai bantuan medis datang.

Apabila cidera yang terjadi ringan atau hanya membutuhkan pengobatan Tim K3 maka cidera dapat ditangani dengan menggunakan fasilitas P3K yang tersedia di tempat kerja atau meminta bantuan petugas MR/Tim K3.

Lokasi kejadian segera diamankan untuk menjaga barang bukti yang dipakai sebagai bahan penyelidikan kecelakaan nanti oleh tim yang ditunjuk.

Penyelidikan Kecelakaan

Penyelidikan terhadap suatu kecelakaan dapat dilakukan secara :
a.Informal yaitu penyelidikan kecelakaan yang dapat dilakukan oleh atasan si korban. Hal ini dilakukan untuk cidera yang bersifat ringan (pengobatan dengan P3K).
b.Formal yaitu penyelidikan kecelakaan yang harus melibatkan tim penyelidikan kecelakaan/MR yang telah ditunjuk dan terdiri atas wakil dari Departemen yang terkait dengan kecelakan yang terjadi.

Penyelidikan kecelakaan dilakukan sesegera mungkin setelah suatu kecelakaan terjadi. Tim penyelidik segera berkumpul dan menuju lokasi untuk mencari bukti atau fakta-fakta yang ada.

Tim ini dipimpin oleh MR atau karyawan yang ditunjuk dan melaksanakan kegiatan penyelidikan kecelakaan dengan kegiatan berupa; pengumpulan bukti-bukti di tempat kejadian (foto-foto,gambar,dll) dan wawancara dengan saksi-saksi yang berada saat kecelakaan.

Setelah bukti-bukti dan informasi terkumpul, tim kemudian akan mengadakan rapat untuk membahas temuan, menentukan penyebab dan rekomendasi tindakan perbaikan/pencegahan yang akan diambil.

Pelaporan Hasil Penyelidikan Kecelakaan
Hasil kegiatan tim ini kemudian dilaporkan dengan mengisi lengkap formulir Laporan Penyelidikan Kecelakaan.

Hasil laporan kegiatan penyelidikan kecelakaan ini dibuat dan diserahkan dalam waktu 2 x 24 jam setelah kejadian.

Hasil laporan ini kemudian juga dibahas dalam agenda rapat K3 berikutnya atau jika diperlukan masukan dari pihak manajemen dapat diadakan rapat khusus untuk membahas kejadian kecelakaan tersebut.

Setiap terjadi kecelakaan maka MR wajib melaporkan kepada kantor Depnaker setempat sesuai ketentuan dengan menggunakan format laporan yang ada.

Pemantauan Tindakan Perbaikan/Pencegahan
Memastikan bahwa tindakan perbaikan/pencegahan yang telah disepakati dilakukan.

Apabila dari hasil pemantauan tersebut ditemukan bahwa tindakan tersebut belum selesai atau belum dilaksanakan karena sesuatu hal maka diputuskan target waktu penyelesaian berikutnya.

Bila tindakan perbaikan/pencegahan telah dilaksanakan maka dicantumkan status tindakan telah selesai dilaksanakan

Potensi Bahaya Kerja di Kantor dan Pencegahannya

Di bawah ini adalah macam-macam potensi bahaya yang mungkin terjadi pada tempat kerja di kantor.

Contoh Potensi Bahaya Kerja di Kantor

Potensi Bahaya Cedera Otot
Untuk mencegah bahaya cedera notot, maka hendaklah setiap orang memperhatikan berat benda yang dibawa, arah dan jarak mengangkat benda dan disesuaikan dengan kemampuan prbadi. Perhatikan cara mengangkat benda yang aman.

Potensi Bahaya “Slip, Trip, Fall”
Untuk Mencegah potensi bahaya “Slip, Trip, Fall” atau terpeleset, tersandung atau terjatuh, maka sebaiknya dilakukan upaya upaya seperti memastikan bahwa jalan tidak ada penghalang, tidak licin, dan pasikan juga anda menggunakan alas kaki yang nyaman, aman, dan proporsional untuk berjalan.

Potesi Bahaya Terjepit
Hati hati ketika berada diantara dua benda sepeti pintu yang terbuka atau laci meja yang terbuka, karena berpotensi timbulnya bahaya terjepit.

Tata Letak Penyimpanan Benda
Pastkan benda benda di ruang kantor diletakan dalam posisi yang Aman dan tidak berpotensi terjatuh dan menimpa seseorang.

Terbentur atau Membentur Benda di Ruang Kantor
Pastikan benda benda di ruang kantor yang disimpan atau yang sedang dipindahkan tidak menghalangi akses jalan sehingga dapat mencegah insiden terbentur atau membentur benda tersebut

Kualitas udara dalam ruang kantor
Pastikan sirkulasi udara dalam dalam ruangan mengalir dengan baik sehingga kesegaran udara dalam ruang kantor tetap terjaga.

Faktor Egronomis
Perhatkan posisi Anda ketika bekerja seperti keika sedang duduk, sedang mengangkat benda, agar tetap memenuhi kriteria faktor faktor egronomis.

Peralatan Elektronik
Cegah potensi bahaya tersengat aliran listrik dengan memperhatikan instruksi dalam pengunan alat alat lektronik di kantor, seperti selalu mematikan komputer apabila sudah tidak digunakan.

Kualitas Cahaya & Suara
Atur pencahayaan selama bekerja sehingga ruangan mendapat pencahayaan yang proporsional serta pastikan ruangan terbebas dari suara suara dari benda sekitar yang menimbulkan kebisingan.

Kesiapan menghadapi kebakaran
Pastikan setiap karyawan yang berada di ruang kantor mengetahui prosedur menghadapai kebakaran seperti cara mengunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan mengetahui tempat APAR diletakan.

Sebagian hal hal diatas hanyalah sebgian kecil dari banyknya faktor yang bisa mendukung “Office Safety”.

Peran dan Tanggung Jawab Karyawan Pada K3L

Di bawah ini adalah peran dan tanggung jawab karyawan perusahaan terhadap Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan ( K3L ) yang wajib diketahui dan diaplikasikan.

Peran dan Tanggung Jawab

1.1 Setiap orang di lingkungan Perusahaan memiliki peran dan tanggung jawab dalam K3 sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing

1.2 Tugas dan tanggung jawab individu dijelaskan dalam uraian tugas masing-masing karyawan.

1.3 Direktur Utama

  • Bertanggung jawab untuk memastikan bahwa sistem manajemen K3 telah berjalan dengan baik dengan memberikan komitmen dan menetapkan kebijakan termasuk memberikan sumber daya yang diperlukan.
  • Melakukan tinjauan manajemen secara berkala untuk melihat kinerja pelaksanaan SMK3 serta memberikan arahan dan peningkatan yang diperlukan secara berkesinambungan

1.4 Management Representative

  • Memastikan proses yang diperlukan untuk Sistem Manajemen K3 ditetapkan, diterapkan dan dipelihara.
  • Melaporkan kepada Direktur Utama mengenai kinerja Sistem Manajemen K3 dan peluang untuk perbaikan.
  • Memastikan kesadaran dari seluruh karyawan mengenai pentingnya memenuhi persyaratan pelanggan.
  • Merencanakan dan melaksanakan serta memantau Program Audit Internal serta Tinjauan Manajemen.
  • Bertanggungjawab terhadap pemecahan masalah / kendala dalam pembangunan dan penerapan Sistem Manajemen K3 di semua unit kerja.
  • Memastikan penggunaan Standar Kerja/ Acuan Kerja terkini untuk masing-masing unit kerja.
  • Mewakili perusahaan untuk masalah Sistem Manajemen K3 terutama kepada Pihak Luar.
  • Mengontrol dokumen, seperti menerbitkan, perubahan, distribusi, penomoran dan pemusnahan.
  • Memelihara dokumen, seperti master dokumen Manual K3, Prosedur, K3 Plan, Form, Catatan K3, Laporan Audit dan hasil Rapat Sistem Manajemen K3.
  • Sebagai penghubung perusahaan dengan pihak luar yang berhubungan dengan Sistem Manajemen K3.

1.5 Manager Proyek

  • Bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan dari seluruh pekerja, kontraktor, tamu dan masyarakat ketika berada di bidang kerjanya.
  • Bertanggung jawab menyediakan sumber daya untuk penerapan sistem manajemen K3 di lingkungannya masing-masing.
  • Berwenang untuk menentukan suatu kegiatan dapat diteruskan atau harus dihentikan berdasarkan penilaian resiko.
  • Bertanggung jawab untuk memastikan bahwa peraturan perundangan dibidang K3 yang berlaku bagi perusahaan telah dipenuhi.
    Berwenang untuk mengeluarkan Laporan ketidak sesuaian.
  • Berwenang untuk mengambil tindakan tegas terhadap tindakan-tindakan yang dapat membahayakan K3.
  • Berwenang untuk memberlakukan keadaan dalam darurat ( emergency ).

1.6 Manager HSE :

  • Bertanggung jawab terjaganya dokumentasi sistem manajemen K3.
  • Bertanggung jawab untuk memastikan sistem berjalan efektif dan tetap sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.
  • Menerima tanggung jawab untuk memastikan sistem diterapkan diseluruh bagian/fungsi.
  • Bertanggung jawab mendapatkan informasi peraturan yang terbaru.
  • Bertanggung jawab untuk mengaudit sistem dan melaporkan kepada Management Representative.
  • Bertanggung jawab mengevaluasi bahaya-bahaya dari proses yang ada atau yang baru dan untuk menekan resiko-resikonya.
  • Bertanggung jawab menetapkan dan mengembangkan rencana tanggap darurat.
  • Bertanggung jawab untuk melaksanakan komunikasi dengan eksternal.
  • Berwenang untuk mengeluarkan laporan kecelakaan, laporan ketidak sesuaian dan tindakan perbaikan.

1.7 Seluruh Manager :

  • Memastikan bahwa program peningkatan K3 di area kerja mereka telah dijalankan dengan baik.
  • Bertanggung jawab untuk memastikan penerapan sistem manajemen K3 di tempat kerjanya dan memastikan bahwa seluruh resiko yang ada di areanya telah diidentifikasi, terdokumentasi, direkam dan dikendalikan.
  • Membina dan memastikan bahwa pekerja bawahannya termasuk pihak ketiga telah memahami dan mematuhi semua ketentuan keselamatan kerja yang berlaku.

1.8 Seluruh pekerja :

  • Bertanggung jawab untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen K3 setiap saat di dalam menjalankan pekerjaannya masing-masing.
  • Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan keselamatan dan cara kerja aman yang berlaku untuk pekerjaannya masing-masing, termasuk penggunaan alat keselamatan yang sesuai.
  • Bertanggung jawab melaporkan kecelakaan atau insiden atau tindakan yang dapat mengarah pada insiden (unsafe condition) kepada atasannya dan merekamnya dalam buku kecelakaan dan insiden.

Semoga tulisan tentang fungsi, peran dan tanggung jawab karyawan bermanfaat bagi kita.

Istilah-Istilah Dalam K3L Beserta Pengertiannya

Kali ini saya akan memberikan pengetahuan tentang istilah-istilah yang dipakai dalam K3L dan Pengertiannya.

Istilah dalam K3L dan Pengertiannya

1. Kecelakaan adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan kematian, sakit, luka, kerusakan atau kehilangan/kerugian lain.

2. Bahaya adalah keadaan atau situasi yang potensial dapat menyebabkan kerugian seperti luka, sakit, kerusakan aset, kerusakan lingkungan kerja atau gabungan dari keadaan ini.

3. Identifikasi bahaya adalah menemu dan mengenalkan jenis-jenis bahaya yang berhubungan kegiatan / proses, termasuk bagaimana bahaya itu akan terjadi.

4. Ketidaksesuaian adalah penyimpangan apapun dari standard kerja, praktek, prosedur, peraturan, kinerja sistem manajemen dan lain-lain yang dapat secara langsung atau tidak langsung menyebabkan luka atau sakit, kerusakan aset, kerusakan lingkungan kerja atau gabungan dari semuanya.

5. Kejadian adalah peristiwa yang menyebabkan kecelakaan atau yang dapat mengarah pada kecelakaan.

6. Konsekuensi adalah dampak yang mungkin timbul dari suatu bahaya.

7. Resiko adalah gabungan dari kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya tertentu pada saat kejadian.

8. Penilaian Resiko adalah penilaian dari keseluruhan proses terhadap besarnya resiko dan penentuan apakah resiko ini dapat diterima.

9. Resiko yang dapat diterima adalah resiko yang telah dikurangi sampai tingkatan dapat diterima oleh organisasi sesuai dengan pemenuhan hukum terhadap kebijakan OHSAS.

10. Keselamatan adalah bebas dari resiko yang tidak dapat diterima atau bahaya (ISO/IEC Guide 2).
11. Sistem manajemen K3 adalah bagian dari keseluruhan sistem manajemen yang memudahkan manajemen dari resiko K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan) sejalan dengan business organisasi. Hal ini mencakup struktur organisasi, rencana kegiatan, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumber daya untuk pengembangan, penerapan, pencapaian dan peninjauan.

12. Peningkatan berkelanjutan adalah proses untuk peningkatan sistem manajemen K3L untuk mencapai perbaikan kinerja secara keseluruhan dari keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan, searah dengan kebijakan perusahaan.

13. Normal adalah kondisi / keadaan reguler dan terencana.

14. Abnormal adalah kondisi / keadaan tidak normal baik terencana maupun tidak terencana dan masih terkendali.

15. Eliminasi adalah menghilangkan suatu materi / bahan yang dianggap membahayakan.

16. Audit adalah pemeriksaan sistematis untuk menentukan apakah kegiatan dan hasil yang bersangkutan sesuai dengan pengaturan yang telah direncanakan dan apakah pengaturan ini diterapkan secara efektif dan sesuai dengan pencapaian kebijakan dan tujuan organisasi.

17. Keadaan darurat (Emergency) adalah kondisi / keadaan yang tidak direncanakan / terjadi secara tiba-tiba dan dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap keselamatan, kesehatan dan lingkungan.

18. Substitusi adalah mengganti suatu materi / bahan dengan bahan lain sehingga tingkat resiko lebih rendah.

19. Alat Pelindung Diri adalah suatu usaha untuk mengurangi tingkat resiko dengan menggunakan alat pelindungan pada pekerja yang terpapar.

20. Administratif adalah suatu usaha untuk mengurangi resiko dengan pendekatan admistratif, misalnya prosedur kerja, ijin kerja panas, ijin kerja dingin, dll.

21.Engineering adalah suatu usaha untuk melakukan modifikasi terhadap suatu alat atau kondisi sehingga tingkat resiko lebih rendah.

Semoga tulisan tentang istilah k3l tersebut bisa menambah wawasan kita.

UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja

Berikut ini adalah isi dari UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

UNDANG-UNDANG NO 1 TAHUN 1970
DASAR-DASAR K3
KELEMBAGAAN K3

PENDAHULUAN

Undang-Undang No. 1 tahun 1970 mengatur tentang Keselamatan Kerja. Meskipun judulnya disebut sebagai Undang-undang Keselamatan Kerja, tetapi materi yang diatur termasuk masalah kesehatan kerja.

Undang-undang ini dimaksudkan untuk menentukan standar yang jelas untuk keselamatan kerja bagi semua karyawan sehingga mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas Nasional; memberikan dasar hukum agar setiap orang selain karyawan yang berada di tempat kerja perlu dijamin keselamatannya dan setiap sumber daya perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien; dan membina norma-norma perlindungan kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.

Ruang lingkup Undang-undang ini adalah keselamatan kerja di semua jenis dan tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Selain itu, dalam upaya pelaksanaan undang-undang tersebut, harus dipahami mengenai dasar-dasar keselamatan kerja. Struktur dan persyaratan kelembagaan yang mendukung pelaksanaan undang-undang juga diuraikan secara jelas.

BAB I
UNDANG-UNDANG NO 1 TAHUN 1970

A. Pengertian Tempat Kerja
Yang dimaksud dengan “tempat kerja” dalam undang-undang (UU) ini adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya terhadap pekerja.
Berikut adalah beberapa pengertian yang terkait dengan tempat kerja:
1. Pengurus: bertugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagian tempat kerja yang berdiri sendiri. Dalam Undang-undang Keselamatan Kerja, pengurus tempat kerja berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan semua ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerjanya.
2. Pengusaha: orang atau badan hukum yang memiliki atau mewakili pemilik suatu tempat kerja.
3. Direktur: adalah Direktur Jendral Bina Hubungan Ketenagakerjaan dan Pengawas Norma Kerja (sekarang Direktur Jendral Bina Hubungan Industrial dan Pengawas Ketenagakerjaan).
4. Pegawai Pengawas. Seorang pegawai pengawas harus mempunya keahlian khusus yang dalam hal ini adalah menguasai pengetahuan dasar dan praktek dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja melalui suatu proses pendidikan tertentu.
5. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja: personel yang berada di luar Departemen Tenaga Kerja, dan mempunyai keahlian khusus di bidang keselamatan dan kesehatan kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.

B. Tujuan
Tujuan daripada UU Keselamatan Kerja adalah:
1. Agar tenaga kerja dan setiap orang lainnya yang berada dalam tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat.
2. Agar sumber produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien.
3. Agar proses produksi dapat berjalan tanpa hambatan apapun.

C. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Dasar 1945, pasal 5, 20 dan 27
2. Undang-undang No. 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Ketenagakerjaan.
Beberapa Peraturan yang Berkaitan dengan K3
1. UU No. 1 tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU Kerja Tahun 1948 No. 1, yang memuat aturan-aturan dasar tentang pekerjaan anak, orang muda dan wanita, waktu kerja, istirahat dan tempat kerja.
2. UU UAP (Stoon Ordonantie, Stdl. No.225 tahun 1930), yang mengatur keselamatan kerja secara umum dan bersifat nasional.
3. UU Timah Putih Kering, yang mengatur tentang larangan membuat, memasukkan, menyimpan atau menjual timah putih kering kecuali untuk keperluan ilmiah dan pengobatan atau dengan izin dari pemerintah.
4. UU Petasan, yang mengatur tentang petasan buatan yang diperuntukkan untuk kegembiraan/keramaian kecuali untuk keperluan pemerintah.
5. UU Rel Industri, yang mengatur tentang pemasangan, penggunaan jalan-jalan rel guna keperluan perusahaan pertanian, kehutanan, pertambangan, kerajinan dan perdagangan.
6. UU No. 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-kantor.
7. UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial:
a. Jaminan kecelakaan kerja
b. Jaminan kematian
c. Jaminan hari tua
d. Jaminan pemeliharaan kesehatan

D. Ruang Lingkup
Undang-undang Keselamatan Kerja memuat aturan-aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Azas-azas yang digunakan dalam UU No. 1 tahun 1970 adalah :
• Azas nationaliteit memberlakukan UU keselamatan kerja kepada setiap warga negara yang berada di wilayah hukum Indonesia (termasuk wilayah kedutaan Indonesia di luar negeri dan terhadap kapal-kapal yang berbendera Indonesia).
• Azas teritorial memberlakukan UU keselamatan kerja sebagaimana hukum pidana lainnya kepada setiap orang yang berada di wilayah atau teritorial Indonesia, termasuk warga negara asing yang tinggal di Indonesia (kecuali yang mendapat kekebalan diplomatik).
Dengan demikian, UU ini berlaku untuk setiap tempat kerja yang didalamnya terdapat 3 unsur, yaitu:
• Adanya tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha
• Adanya tenaga kerja yang bekerja
• Adanya bahaya kerja

E. Syarat-syarat K3
Persyaratan tersebut ditetapkan dalam pasal-pasal di bawah ini:
• Pasal 3 ayat 1 berisikan arah dan sasaran yang akan dicapai.
• Pasal 2 ayat 3 merupakan escape clausul , sehingga rincian yang ada dalam pasal 3 ayat 1 dapat diubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi serta penemuan-penemuan di kemudian hari.
• Pasal 4 ayat 2, mengatur tentang kodifikasi persyaratan teknis keselamatan dan kesehatan kerja yang memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan praktis.

F. Pengawasan K3
Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap UU Keselamatan Kerja, sedangkan pegawai pengawas dan ahli keselamatan dan kesehatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya UU ini dan membantu pelaksanaannya.

G. Pembinaan K3
Undang-undang Keselamatan Kerja mengatur tentang kewajiban pengurus dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerjanya. Undang-undang Keselamatan Kerja juga mengatur kewajiban tenaga kerja. Hal ini juga berlaku pula bagi orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut.

H. Ketentuan Pelanggaran
Ancaman hukuman dari pelanggaran ketentuan UU Keselamatan Kerja adalah hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setingginya Rp. 100.000,-. Proses projustisia dilaksanakan sesuai dengan UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP.

I. Peraturan Pelaksanaan
Dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Peraturan pelaksanaan yang bersumber dari Velleigheidsreglement (VR) 1910 berupa peraturan khusus yang masih diberlakukan berdasarkan pasal 17 UU Keselamatan Kerja.
2. Peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan berdasarkan UU Keselamatan Kerja sendiri sebagai peraturan organiknya.

BAB II
DASAR-DASAR KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (K3)

A. Tujuan K3
Seperti yang sudah dijelaskan dalam UU Keselamatan Kerja, tujuan K3 adalah untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan menjamin:
• Setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas keselamatannya.
• Setiap sumber produksi dapat dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien.
• Proses produksi berjalan lancar.

B. Pengertian
1. Pengertian K3
Secara Filosofi :
Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.

Secara Keilmuan :
Ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Secara Praktis :
Upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja serta bagi orang lain yang memasuki tempat kerja maupun sumber dan proses produksi secara aman dan efisien dalam pemakaiannya.

2. Potensi bahaya (Hazard) adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau dapat menimbulkan kecelakaan dan kerugian berupa cedera, penyakit, kerusakan atau kemampuan melaksanakan fungsi yang telah ditetapkan.
3. Tingkat bahaya (Danger) adalah ungkapan adanya potensi bahaya secara relative.
4. Risiko (Risk) adalah menyatakan kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu.
5. Insiden adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat dan telah mengadakan kontrak dengan sumber energi melebihi nilai ambang batas badan atau struktur.
6. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia dan atau harta benda.
7. Aman dan selamat adalah kondisi tiada ada kemungkinan malapetaka (bebas dari bahaya).
8. Tindakan tidak aman adalah suatu pelanggaran terhadap prosedur keselamatan yang memberikan peluang terhadap terjadinya kecelakaan.
9. Keadaan yang tidak aman adalah suatu kondisi fisik atau keadaan yang berbahaya yang mungkin dapat langsung mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

C. Prinsip Dasar Pencegahan Kecelakaan
Pada dasarnya semua hampir semua kecelakaan dapat dicegah dan dapat diidentifikasi penyebabnya. Dalam usaha pencegahan kecelakaan, penyebab dasar atau akar permasalahan dari suatu kejadian harus dapat diidentifikasi, sehingga tindakan koreksi bisa tepat dilaksanakan untuk mencegah kejadian yang sama. Teori domino, merupakan salah satu teori yang dapat dipakai sebagai acuan dalam proses tersebut.

Rangkaian faktor-faktor penyebab kejadian kecelakaan dalam teori domino dapat diurutkan sbb:
1. Kelemahan pengawasan oleh manajemen (Lack of control management)
2. Penyebab Dasar
3. Sebab yang Merupakan Gejala (Symptom): Kondisi dan Tindakan Tidak Aman
4. Kecelakaan
5. Biaya Kecelakaan

D. Metode Pencegahan Kecelakaan
Dalam upaya pencegahan kecelakaan, ada 5 tahapan pokok yaitu:
1. Organisasi K3
2. Menemukan fakta atau masalah: survey, inspeksi, observasi, investigasi dan reviu record kecelakaan.
3. Analisis
Dari hasil analisis dapat saja dihasilkan satu atau lebih alternatif pemecahan.
4. Pemilihan / Penetapan alternatif / Pemecahan
5. Pelaksanaan
Menurut International Labour Organization (ILO), langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menanggulangi kecelakaan kerja antara lain:
1. Peraturan Perundang-undangan
2. Standarisasi
3. Inspeksi
4. Riset teknis, medis, psikologis, statistik
5. Pendidikan dan Pelatihan
6. Persuasi
7. Asuransi

E. Analisis Kecelakaan Kerja
Menurut peraturan perundangan, setiap kejadian kecelakaan kerja wajib dilaporkan kepada Departemen Tenaga Kerja selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah kecelakaan tersebut terjadi. Kecelakaan kerja yang wajib dilaporkan adalah kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja maupun kecelakaan dalam perjalanan yang terkait dengan hubungan kerja.
Tujuan dari kewajiban melaporkan kecelakaan kerja adalah :
• Agar pekerja yang bersangkutan mendapatkan haknya dalam bentuk jaminan dan tunjangan
• Agar dapat dilakukan penyidikan dan penelitian serta analisis untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa

Dari hasil laporan kecelakaan kerja, harus dilakukan analisis yang mencakup beberapa hal di bawah ini:
1. Tujuan
2. Apa yang dianalisis
3. Siapakah petugas analisis
4. Langkah-langkah analisis
5. Cara analisis

Laporan analisis kecelakaan harus dapat menggambarkan hal-hal sbagai berikut :
• Bentuk kecelakaan – tipe cidera pada tubuh
• Anggota badan yang cidera akibat kecelakaan
• Sumber cidera
• Type kecelakaan – peristiwa yang menyebabkan cidera
• Kondisi berbahaya – kondisi fisik yang menyebabkan kecelakaan
• Penyebab kecelakaan – objek, peralatan, mesin berbahaya
• Sub penyebab kecelakaan – bagian khusus dari mesin, peralatan yang berbahaya
• Perbuatan tidak aman

BAB III
KELEMBAGAAN K3

A. Kelembagaan K3
Adalah sebuah organisasi / badan swasta independent, non pemerintah yang bergerak di bidang pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), beranggotakan perusahaan dan lembaga usaha berbadan hukum di Indonesia. Lembaga K3 yang ada di Indonesia pada saat ini adalah : P2K3, DK3N dan PJK3.
• P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) adalah suatu lembaga yang dibentuk di perusahan untuk membantu melaksanakan dan menangani usaha-usaha keselamatan dan kesehatan kerja yang keanggotaannya terdiri dari unsure pengusaha dan pekerja.
• DK3N (Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional) adalah suatu lembaga yang dibentuk untuk membantu memberi saran dan pertimbangan kepada Menteri tentang usaha-usaha keselamatan dan kesehatan kerja.
• PJK3 (Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatahn Kerja) adalah suatu lembaga usaha berdasarkan surat keputusan penunjukkan dari Depnakertrans yang bergerak di bidang jasa keselamatan dan kesehatan kerja yang mempunyai ahli K3 di bidangnya.

B. Dasar Hukum
Dasar hukumnya adalah UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 10 ayat 1 dan 2 dengan peraturan pelaksanaannya, yaitu :
1. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 125/Men/1984 tentang pembentukan, susunan dan tata kerja DK3N, DK3W dan P2K3.
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 04/Men/1987 tentang P2K3 serta tata cara penunjukkan ahli K3
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 04/Men/1995 tentang PJK3.

C. Ruang Lingkup
Meliputi latar belakang kebijakan, dasar hokum, tugas dan fungsi serta prosedur pembentukan lembaga P2K3, DK3N dan PJK3.

D. Tugas Pokok dan Fungsi P2K3 DK3N dan PJK3
1. P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Tugas pokok:
Memberikan saran dan pertimbangan kepada pengusaha mengenai K3
Fungsi:
– menghimpun dan mengolah data tentang K3 di tempat kerja
– membantu menuunjukkan dan menjelaskan K3 pada setiap tenaga kerja
– membantu pengusaha dalam mengevaluasi K3

Persyaratan, Pembentukan dan Penunjukan diatur dalam Peraturan Menaker No.: Per-04/MEN/1987.

2. DK3N (Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional)
Tugas pokok:
Memberikan saran dan pertimbangan kepada menteri mengenai K3
Fungsi:
Menghimpun dan mengolah data K3 di tingkat nasional dan membantu menteri dalam memasyarakatkan K3.

Persyaratan, Pembentukan dan Penunjukan diatur dalam Peraturan Menaker No.: Kep. 155/MEN/1994.
3. PJK3 (Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Tugas pokok:
Membantu pelaksanaan pemenuhan syarat-syarat K3 sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Fungsi:
Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan masalah K3.

Persyaratan, Pembentukan dan Penunjukan diatur dalam Peraturan Menaker No.: Per-04/MEN/1995.
BAB IV
PENUTUP

Materi mengenai Undang-undang No. 1 tahun 1970, Dasar-dasar K3 dan Kelembagaan K3 sudah cukup memadai untuk diberikan kepada para Ahli K3 di perusahaan.

Kaitannya dengan sosialisasi UU Keselamatan Kerja dan peraturan-peraturan yang terkait, harus melibatkan manajemen paling tinggi di suatu perusahaan dan mengharapkan komitmen mereka terhadap UU dan peraturan yang sudah dibuat.

Download UU-01-1970 Pdf :

Download (PDF, 87KB)

 

101 Money Saving Tips

People are always trying to save money, especially with today’s economy. No matter what your reason for saving, through this blog, you will discover ways never considered.

The price of everything has gone up, requiring people to be more conscientious about money. The problem is that by the time the mortgage, car, utilities, and credit cards are paid, there is little money to put aside. Saving money is not that hard, just a matter of learning all the different options and being creative.

In addition to the obvious of putting money into a retirement fund or savings account, there are hundreds of ways to save money. Although some ways of saving may not seem like much, once you add them up at the end of the year, you will see how substantial the savings really are. Keep in mind that saving is more than a single lump sum of money put aside. Saving is something found in your everyday life by the way you live and the choices you make.

Rome was not built in a day and neither will your bank account be. Each penny saved is one more penny than before. If you have the ability to save big, that is great. However, most people are not in that position, which is why this e-book will show you how little savings can add up quickly.

Be encouraged that it is never too late to start saving, regardless of your age. Set your mind that now is the time to start building your future.

1. Thrift / Surplus Stores
Unfortunately, thrift and surplus stores have been given a bad rap. Many of these stores are filled with hundreds of top quality items. Name brand merchandise is easy to find but just like clearance racks, it takes some time to find. Find a thrift or surplus store close to where you live and then plan spending some time to find those outstanding bargains. One woman in Kansas City, Missouri located such a store about 20 minutes from her home. After shopping through every isle over the period of two hours, she walked out of the store with eight huge garbage bags filled to the brim with designer clothes for her and her children, many with the original tags still attached. She even found a couple of Liz Claiborne suits for herself at $5.99 each and a Dooney & Burke purse normally valued at $225 for $19.95. Her children had an entire season of school clothes and best of all, she paid less than $200.
2. Clearance
Always head straight for the clearance rack where you can find amazing bargains. Sometimes you may have to dig a little to find the right item but the savings will be well-worth your time. Most clearance racks offer variety, current trends, and great value. For example, Bed, Bath & Beyond has a clearance section where you can find all kinds of wonderful household items for a fraction of the original cost.
3. Holiday Gift Giving
This tip is especially helpful for large families. Although it is fun buying for and receiving from everyone, it can be very expensive. Make an agreement with your family that you will continue to buy for the children but that the adults will go with a name exchange. This way the children are not disappointed and you can spend a little more on one or two people rather than spreading your money thin. For the members that you did not pick to exchange with, bake a loaf of their favorite homemade bread or cookies.
4. Wrapping Paper and Bows
Create your own wrapping paper, which is not only unique, but also fun. Use plain brown grocery bags and craft-like paints to make your design. After wrapping the gift, let your creative juices flow. For example, using black and yellow craft paint, create a miniature road. Then dipping toy truck tires into red paint roll them along the paper making tire tracks. You can then draw free hand a stop sign, yield sign, or stop light. Next, using a hot glue gun, glue a couple of the miniature trucks to the paper. This is perfect for a young boy. He will be just as thrilled with the wrapping as the actual gift. For a girl, you can simply create miniature bows from existing fabric or lace and glue them on brown paper then free hand draw colorful flowers. Just use your creativity and look around for items you already have on hand to use.
5. Reuse
When you shop, look for items that can be reused. Rechargeable batteries are a perfect example. Even though the initial purchase may be more than non-rechargeable batteries, there is a definite savings over a long period. Another option would be to purchase a nice artificial Christmas tree. Many of the current artificial trees look amazingly real and with the right lights and ornaments, you can change the look from year to year.

Lenovo A7000 – Release Date and Specification

Highlights

  • – Released 2015, April>
  • – 1.5 GHz MT6752m Octa-Core Processor
  • – 2GB RAM
  • – 8 MP Rear Camera With LED Flash
  • – 5MP Front Camera
  • – 4G
  • – 140g, 8mm thickness
  • – Android OS, v5.0
  • – 8GB storage, microSD card slot
  • – WiFi
  • – 5.5 Inch HD IPS Touchscreen Display
  • – Dual Micro SIM
  • – Bluetooth
  • – FM Radio
  • – 2900 MAh Battery.

Lenovo A7000 Specifications

Collapse All Sections

Built

Dimensions 152.6×76.2×7.9 mm
Weight 140 g
Form Factor bar
Colors Onyx Black, Pearl White

Display

Size 1280×720 pixels
Type color : TFT
Colors 16000000 colors
Secondary Display no

Camera / Imaging / Video

Camera Yes 8.1 MP
Resolution 3264×2448 pixels
Zoom yes
Flash yes
Secondary Camera yes

Secondary Camera

Flash no

Connectivity

Bluetooth Yes
Irda No
Wlan/Wi-fi Yes
USB yes
GPS yes

Data

GPRS Yes
EDGE Yes
3G Yes
Internet Browsing Yes , Android Webkit

Network

Technology / Frequency Bands GSM : 850/900/1800/1900 MHz LTE : 2300 MHz

Battery

Type Li – Po
Capacity 2900 mAh
Standby 264 hours
Talktime 2340 mins

Media

Audio Playback Yes
Video Playback Yes
Ringtones MP3 and Polyphonic
FM Radio Yes
3.5mm Headphone Jack yes

Memory

Inbuilt 8 GB
Memory Slot Yes microSD/TransFlash

Messaging

SMS Yes
MMS Yes
Email Yes

Software

Operating System Android 5.0